Asal Usul Pesut Mahakam

Mahakam merupakan nama sebuah sungai terbesar di provinsi Kalimantan Timur yang bermuara di Selat Makassar. Sungai dengan panjang sekitar 920 km ini melintasi wilayah Kabupaten Kutai Barat di bagian hulu, hingga Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Samarinda di bagian hilir. Di sungai ini hidup spesies mamalia ikan air tawar yang terancam punah, yakni Pesut Mahakam.
sungai mahakam
Sungai Mahakam

Menurut Wikipedia, Pesut mahakam (Latin:Orcaella brevirostris) adalah sejenis hewan mamalia yang sering disebut lumba-lumba air tawar yang hampir punah karena berdasarkan data tahun 2007, populasi hewan tinggal 50 ekor saja dan menempati urutan tertinggi satwa Indonesia yang terancam punah. Secara taksonomi, pesut mahakam adalah subspesies dari pesut (Irrawaddy dolphin).

Tidak seperti mamalia air lain yakni lumba-lumba dan ikan paus yang hidup di laut, pesut mahakam hidup di sungai-sungai daerah tropis. Populasi satwa langka yang dilindungi undang-undang ini hanya terdapat pada tiga lokasi di dunia yakni Sungai Mahakam, Sungai Mekong, dan Sungai Irawady.

Pesut mempunyai kepala berbentuk bulat (seperti umbi) dengan kedua matanya yang kecil (mungkin merupakan adaptasi terhadap air yang berlumpur). Tubuh pesut berwarna abu-abu sampai wulung tua, lebih pucat dibagian bawah - tidak ada pola khas. Sirip punggung kecil dan membundar di belakang pertengahan punggung. Dahi tinggi dan membundar; tidak ada paruh. Sirip dada lebar membundar.

pesut mahakam
Pesut Mahakam
Pesut bergerak dalam kawanan kecil. Walaupun pandangannya tidak begitu tajam dan kenyataan bahwa pesut hidup dalam air yang mengandung lumpur, namun pesut merupakan 'pakar' dalam mendeteksi dan menghindari rintangan-rintangan. Barangkali mereka menggunakan ultrasonik untuk melakukan lokasi gema seperti yang dilakukan oleh kerabatnya di laut.

Populasi hewan ini terus menyusut akibat habitatnya terganggu, terutama makin sibuknya lalu-lintas perairan Sungai Mahakam, serta tingginya tingkat erosi dan pendangkalan sungai akibat pengelolaan hutan di sekitarnya. Kelestarian Pesut Mahakam juga diperkirakan terancam akibat terbatasnya bahan makanan berupa udang dan ikan, karena harus bersaing dengan para nelayan di sepanjang Sungai Mahakam.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat Kalimantan Timur, ikan pesut ini bukanlah sembarang ikan melainkan ikan jelmaan manusia sehingga nelayan atau penduduk setempat tidak berani mengusiknya apalagi menangkap atau memakan dagingnya.

Berbagai cerita menyatakan jika orang berani menangkap atau memakan daging ikan pesut maka orang itu akan celaka. Jika tidak meninggal maka orang itu akan selalu dihantui dengan mimpi-mimpi menyeramkan yang akan membuatnya gila.

Begitu seramnya cerita itu, sebaiknya kita mengetahu lebih dalam tentang legenda ikan pesut Mahakam.

Begini kisahnya.

Pada zaman dahulu di sebuah dusun di rantau Mahakam, ada sebuah keluarga kecil yang sangat bahagia. Mereka terdiri dari sepasang suami-istri dan dua orang putra dan putri. Kebutuhan hidup mereka dapat terpenuhi dari hasil kebun yang ditanami berbagai jenis buah-buahan dan sayur-sayuran. Begitu pula segala macam kesulitan dapat diatasi dengan cara yang bijaksana.

Suatu hari sang Istri terserang oleh suatu penyakit.  Sudah banyak tabib yang mengobati, namun penyakit tersebut tak kunjung sembuh sehingga sang Istri meninggal dunia. Meninggalnya sang Istri, kehidupan keluarga ini mulai tak terurus lagi.

Mereka larut dalam kesedihan yang mendalam karena kehilangan orang yang sangat mereka cintai. Sang ayah menjadi pendiam dan pemurung, sementara kedua anaknya selalu diliputi rasa bingung, tak tahu apa yang mesti dilakukan. Keadaan rumah dan kebun mereka kini sudah tak terawat lagi.

Beberapa sesepuh desa telah mencoba menasehati sang ayah agar tidak larut dalam kesedihan, namun nasehat-nasehat mereka tak dapat memberikan perubahan padanya. Keadaan ini berlangsung cukup lama.
Namun keadaan tersebut berubah saat di dusun tersebut diadakan pesta adat panen. Dalam pesta adat panen itu berbagai pertunjukan dan hiburan digelar salah satunya adalah pertunjukan seni tari.

Dalam pertunjukan seni tari, terdapatlah seorang gadis yang menjadi primadonanya, cantik dan mempesona sehingga selalu mendapat sambutan pemuda-pemuda dusun tersebut ketika ia beraksi.

Mendengar berita yang demikian itu, tergugah juga hati sang Ayah untuk turut menyaksikan bagaimana kehebatan pertunjukan yang begitu dipuji-puji penduduk dusun hingga banyak pemuda yang tergila-gila dibuatnya.

Setelah melihatnya sendiri, sang Ayah terpikat, bak gayung bersambut keduanya saling tertarik lalu jatuh cinta. Setelah mendapat restu dari sesepuh desa dan kedua anaknya, akhirnya mereka melangsungkan pernikahan. Kehidupan mereka berubah membaik, ibu tiri menunjukkan kasih sayangnya kepada kedua anaknya. Memasak dan merawat mereka dengan baik.

Namun keadaan itu tak berlangsung lama.

Beberapa tahun kemudian, ibu tiri mereka mulai menunjukkan sifat-sifat aslinya. Ia menjadi kejam, setiap hari kedua anak itu disuruh bekerja keras. Ia juga tak lagi memasak. Anak-anak itu hanya diberi makanan sisa. Ayah mereka tak berani berkata apa-apa, ia takut jika istrinya itu pergi.

Hingga suatu hari, wanita itu memutuskan untuk berhenti merawat kedua anak tirinya. Jadi, ia menyusun sebuah rencana jahat.

“Hari ini, kalian harus mencari kayu bakar sebanyak-banyaknya. Jumlahnya harus tiga kali lipat dari yang kalian bawa kemarin! Jangan berani pulang jika belum mengumpulkan kayu sebanyak itu!” perintahnya.

Kedua anak itu tak berani membantah, dengan patuh mereka segera berangkat ke hutan. Hari sudah sore, tapi kayu yang mereka kumpulkan masih sedikit. Teringat pesan ibu tirinya, mereka pun tak berani pulang ke rumah. Bahkan mereka memutuskan untuk menginap di hutan. Untunglah, ada pondok yang kosong. Dengan perut keroncongan, mereka tidur kelelahan.

Keesokan harinya, mereka melanjutkan pekerjaan. Tanpa putus asa, mereka terus mengumpulkan kayu bakar hingga akhirnya terkumpul juga. Namun kedua anak itu nyaris pingsan karena kelelahan dan kelaparan.

Mereka tergeletak lemas, seorang kakek tua yang kebetulan lewat menghampiri mereka.

“Kalian kenapa? Mengapa wajah kalian pucat sekali?” tanya kakek itu.

Kedua anak itu menceritakan semuanya pada si kakek. Karena iba, ia menunjukkan tempat pohon buah-buahan. Mereka mengikuti petunjuk kakek tersebut dan dengan lahap memakan buah-buahan tersebut. Setelah tenaga mereka pulih, kedua anak tersebut bergegas pulang.

“Ayah, Ibu, kami pulang. Lihatlah kayu yang kami bawa ini, rasanya cukup untuk persediaan satu bulan,” teriak anak laki-laki.

Sementara adik perempuannya sibuk menata kayu di dalam rumah. Namun aneh, tak ada sahutan.
Mereka mencari orangtua mereka ke kamar, tapi tidak ada. Mereka melihat lemari baju orangtua mereka telah kosong, dan beberapa perabot rumah pun telah hilang. Sadarlah mereka, bahwa ayah dan ibu tiri mereka telah pergi secara diam-diam.

Mereka menangis sejadi- jadinya. Para tetangga yang mendengar datang untuk menanyakan apa yang terjadi. Mendengar cerita keduanya, para tetangga merasa iba menawarkan untuk tinggal bersama mereka. Namun kedua anak itu menolak. Mereka bersikeras untuk mencari ayah clan ibu tirinya.

Keesokan harinya, kedua anak itu memulai pencarian. Mereka berjalan keluar masuk desa tanpa kenal lelah. Pada hari ketiga, bekal mereka teIah habis. Mereka singgah di sebuah rumah untuk menumpang makan dan minum. Si pemilik rumah adalah seorang kakek yang baik hati. Ia menanyakan maksud dan tujuan mereka.

“Rasanya Kakek tahu ke mana orangtua kalian pergi. Beberapa hari yang lalu, Kakek melihat seorang pria dan wanita menyeberang sungai. Mereka membawa banyak barang.” kata si Kakek setelah mendengar cerita mereka.

“Benarkah? Kalau begitu, kami harus segera menyeberang sungai, Kek,” jawab sang anak laki-laki. Si
Kakek meminjamkan perahunya. Dengan memberanikan diri, mereka mengeberangi sungai.

Anak-anak itu bergantian mendayung perahu. Tak terasa, sampailah mereka di seberang. Setelah menambatkan perahu, mereka pun mulai mencari. Mereka menyusuri dusun yang sepi itu, sampai akhirnya menemukan sebuah rumah yang sepertinya baru saja dibangun. Mereka mendekati rumah itu dan memanggil-manggil ayah mereka. Karena tak ada jawaban, mereka memasuki rumah itu. Dan benar saja, di dalam mereka melihat perabotan mereka yang hilang serta baju ayah dan ibu tiri mereka.

Kedua anak itu sangat senang. “Akhirnya kita menemukan orangtua kita, Dik,” kata sang anak laki-laki.
“aku senang sekali. Tapi sekarang aku lapar, aku ingin makan,” jawab adiknya. Mereka pergi ke dapur. “Ah, ini ada sepanci bubur panas. Rupanya Ibu lupa memadamkan apinya,” teriak sang anak perempuan.

Cepat-cepat mereka makan dengan lahap. Sekejap saja, bubur itu kandas tak bersisa.
Setelah makan, kedua anak itu berbaring untuk beristirahat. Namun keanehan terjadi pada diri mereka. Tiba-tiba saja suhu tubuh mereka menjadi panas, sepanas bubur yang baru diangkat dari api tadi. Karena tak tahan dengan rasa panasnya, mereka Iari ke arah sungai.

Sepanjang perjalanan menuju sungai, kedua anak itu memeluk pohon-pohon pisang yang mereka temui. Mereka berharap, dengan memeluk pohon pisang, panas tubuhnya akan berkurang. Memang benar, tubuh mereka sangat panas. Buktinya, daun dan batang pohon pisang yang mereka peluk itu langsung Iayu, tapi panas tubuh mereka tak berkurang juga.

Begitu tiba di sungai, kedua anak itu langsung menceburkan diri. Sementara itu, ayah dan ibu tiri mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Mereka heran melihat banyaknya pohon pisang yang Iayu.

Sesampainya di rumah, mereka terkejut melihat pintu rumah terbuka. Sang ibu tiri buru-buru memeriksa dapur. Ia berteriak kalau bubur yang ia masak telah habis tak bersisa. Sang ayah yakin, anak-anaknya telah menemukannya. Ia lalu pergi mencari mereka.

Pasangan itu berjalan dengan mengikuti arah pohon-pohon pisang yang telah Iayu dan tiba di sungai. Mereka melihat dua ekor ikan yang bergerak ke sana-kemari sambil menyemburkan air dari kepala. Betapa terkejutnya pria itu. Ia yakin, kedua ikan itu adalah anaknya.

Namun ia Iebih terkejut lagi ketika menoleh dan sang istri sudah tidak ada lagi di sampingnya. Sekarang sadarlah ia, bahwa istrinya bukanlah manusia biasa. Ia menyesal kenapa dulu tidak menanyakan asal-usul istrinya sebelum menikah.

Sejak saat itu, oleh masyarakat setempat, ikan yang menyembur-nyemburkan air itu dinamakan ikan Pesut.

Demikian cerita tentang asal-usul ikan Pesut Mahakam.

Tidak ada komentar